Melatih Lisan Untuk Menghindari Ghibah

Bulan Sya’ban menjadi waktu yang sangat strategis untuk melakukan pemanasan ibadah sebelum memasuki Ramadhan. Salah satu tantangan terbesar bagi setiap Muslim dalam menjaga kesucian amalnya adalah mengendalikan lisan. Seseorang yang tidak melatih lisannya sejak sekarang akan sangat mudah terjerumus dalam dosa ghibah yang merusak pahala puasa.

Hakikat dan Bahaya Ghibah

Ghibah merupakan perbuatan membicarakan aib atau keburukan orang lain yang jika orang tersebut mengetahuinya, ia akan merasa tidak suka. Rasulullah ﷺ memberikan definisi yang sangat tegas mengenai batasan ini agar umatnya senantiasa berhati-hati. Penjelasan tersebut terekam dalam sebuah hadits shahih yang berasal dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau ﷺ bersabda: “Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai.” (HR. Muslim nomor 2589).

Ancaman Allah ﷻ Terhadap Pelaku Ghibah

Allah ﷻ memberikan perumpamaan yang sangat menjijikkan bagi siapa saja yang gemar mengonsumsi aib saudaranya sendiri. Perbuatan ini Allah ﷻ gambarkan seperti seseorang yang memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati. Oleh karena itu, kita harus menumbuhkan rasa takut yang mendalam agar lisan kita tidak terjebak dalam kemaksiatan ini.

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujurat: 12).

Pelanggaran terhadap lisan ini tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi juga mencoreng catatan amal tahunan kita yang sedang diangkat di bulan Sya’ban. Jadi, mari kita jadikan bulan ini sebagai ajang latihan intensif untuk diam dari hal yang sia-sia.

Langkah Praktis Menjaga Lisan

Kita dapat memulai latihan ini dengan memperbanyak dzikir dan tilawah Al-Qur’an agar lisan selalu sibuk dengan kebaikan. Selanjutnya, hindarilah perkumpulan yang tidak bermanfaat atau majelis yang di dalamnya terdapat pembicaraan mengenai keburukan orang lain. Kesadaran bahwa setiap kata akan mendapatkan pertanggungjawaban akan membuat kita lebih bijak dalam berbicara.

Selain itu, jika kita mendengar orang lain mulai melakukan ghibah, maka kita harus berusaha mengalihkan pembicaraan tersebut. Apabila tidak mampu mencegahnya, maka meninggalkan tempat tersebut merupakan pilihan terbaik demi menjaga kesucian batin. Dengan demikian, kita sedang menyiapkan diri agar memiliki lisan yang shalih saat Ramadhan tiba nanti.

Meraih Kemanisan Iman dengan Diam

Seorang mukmin yang mampu menahan lisannya akan merasakan ketenangan jiwa yang tidak dapat terbeli oleh apa pun. Rasulullah ﷺ menjanjikan keselamatan bagi siapa saja yang mampu menjaga apa yang ada di antara kedua rahangnya. Marilah kita manfaatkan sisa waktu di bulan Sya’ban ini untuk bertaubat dari dosa-dosa lisan yang telah lalu.

Semoga Allah ﷻ memudahkan kita untuk menjaga lisan dan menjadikan kita hamba yang beruntung di dunia serta akhirat. Mari terus konsisten berlatih karena kemenangan di bulan Ramadhan bermula dari kesungguhan kita di bulan Sya’ban ini.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top