Manajemen Lisan

Bulan Syawal sering kali menjadi ajang berkumpul dan bercengkerama bersama sanak saudara maupun kerabat dekat. Namun, momen kebersamaan ini sering kali menjebak kita dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan iman. Oleh karena itu, kita perlu memiliki manajemen lisan yang baik agar setiap kata yang keluar tetap bernilai pahala di hadapan Allah ﷻ.

Lisan sebagai Cermin Keimanan

Seorang Muslim yang baik harus menyadari bahwa kualitas imannya sangat terlihat dari caranya menjaga setiap perkataan yang ia ucapkan. Kita sebaiknya berpikir matang sebelum berbicara agar tidak menyakiti perasaan orang lain atau melanggar syariat. Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang sangat tegas mengenai hubungan antara keimanan dengan lisan seorang hamba.

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).

Tentu saja, diam jauh lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang mengandung sia-sia atau keburukan bagi orang lain. Dengan menjaga lisan, kita sebenarnya sedang membentengi hati agar tetap bersih dari noda-noda dosa yang merusak ketenangan jiwa.

Waspada Bahaya Ghibah dan Fitnah

Selanjutnya, kita harus sangat berhati-hati terhadap penyakit lisan yang paling umum terjadi saat berkumpul, yaitu ghibah atau menggunjing. Membicarakan keburukan orang lain meskipun hal tersebut benar merupakan perbuatan yang sangat tercela dalam pandangan Islam. Allah ﷻ memberikan perumpamaan yang sangat mengerikan bagi orang yang gemar memakan kehormatan saudaranya sendiri.

Allah ﷻ memberikan peringatan keras di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya (QS. Al-Hujurat: 12).

Oleh karena itu, marilah kita alihkan setiap pembicaraan yang mulai mengarah pada aib orang lain kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Kita harus berani menghentikan obrolan yang negatif agar keberkahan silaturahmi kita tidak hilang begitu saja akibat lisan yang tidak terkendali.

Jaminan Surga bagi Penjaga Lisan

Terakhir, Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan yang sangat tinggi bagi siapa saja yang mampu menaklukkan lisannya dari perkataan buruk. Menguasai lisan merupakan perjuangan besar yang memerlukan kesabaran serta kesadaran penuh akan pengawasan Ilahi di setiap waktu. Rasulullah ﷺ memberikan jaminan yang sangat luar biasa bagi hamba yang berhasil menjaga kehormatan mulutnya.

Sahabat Sahl bin Sa’d رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin baginya surga (HR. Bukhari).

Kesimpulannya, marilah kita jadikan bulan Syawal ini sebagai momentum untuk melatih lisan agar hanya berucap hal-hal yang baik dan benar. Fokuslah pada dzikir dan nasihat yang bermanfaat agar setiap pertemuan kita membawa rahmat dari Allah ﷻ. Akhirnya, semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga lisan kita dari segala bentuk perkataan yang menjauhkan kita dari ridha-Nya.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top