Makhul Al-Syami رحمه الله

Samudra Ilmu dari Negeri Syam

Makhul bin Abi Muslim Al-Syami رحمه الله merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di jajaran Tabi’in senior. Beliau lahir di wilayah Kabul, Afghanistan, sebagai seorang budak yang kemudian mendapatkan kemerdekaan di Mesir. Sejarah mencatat namanya sebagai pemimpin para fuqaha (ahli hukum) di negeri Syam pada zamannya. Kecerdasan beliau yang luar biasa sukses menempatkan beliau sebagai rujukan utama dalam bidang hadits dan fikih di wilayah tersebut.

Perjalanan Panjang Menuntut Ilmu

Awalnya, Makhul رحمه الله melakukan rihlah atau perjalanan panjang guna mengumpulkan warisan ilmu kenabian ke berbagai penjuru dunia Islam. Beliau mendatangi Mesir, Irak, Madinah, hingga Syam untuk bertemu langsung dengan para sahabat Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu melalui firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, ketekunan Makhul membuahkan hasil hingga beliau berhasil meriwayatkan hadits dari banyak sahabat besar, seperti Anas bin Malik dan Abu Hurairah رضي الله عنهما. Beliau sukses menyerap berbagai fatwa hukum sehingga para ulama sezamannya mengakui keunggulan ijtihad beliau. Maka, keberadaan beliau di Damaskus menjadi daya tarik bagi para penuntut ilmu yang ingin mendalami syariat secara benar. Beliau memahami bahwa perjalanan fisik dalam mencari ilmu merupakan investasi terbaik bagi seorang mukmin untuk meraih surga.

Keteguhan dalam Menjaga Sunnah

Selain cerdas, Makhul Al-Syami رحمه الله sangat terkenal karena ketelitiannya dalam memilah dan memilih riwayat hadits. Beliau senantiasa memastikan bahwa setiap hadits yang beliau sampaikan memiliki sanad yang jelas dan terpercaya. Beliau memegang teguh kejujuran dalam berilmu sebagaimana perintah Rasulullah ﷺ dalam menjaga amanah risalah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, setiap keputusan hukum yang beliau keluarkan selalu memiliki landasan dalil yang sangat kuat dari Al-Quran dan Sunnah. Beliau sukses membangun sistem fatwa yang sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat Syam saat itu tanpa keluar dari jalur syariat. Selain ahli ilmu, beliau merupakan pribadi yang sangat berwibawa dan disegani oleh para penguasa Dinasti Umayyah. Ketegasan beliau dalam membela kebenaran menjadikannya simbol integritas bagi para ulama generasi berikutnya. Beliau berhasil membuktikan bahwa kedalaman ilmu harus berbanding lurus dengan keberanian dalam menyampaikan al-haq.

Keshalehan dan Kedalaman Ibadah

Kemudian, sisi spiritual Makhul Al-Syami رحمه الله juga sangat menonjol melalui pengabdiannya yang tulus kepada Allah ﷻ. Beliau sering kali menghabiskan waktu malamnya untuk shalat dan merenungkan keagungan penciptaan alam semesta. Beliau meyakini bahwa seorang ahli ilmu harus menjadi orang yang paling takut kepada Tuhannya. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama sejati:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, kewibawaan beliau dalam mengajar lahir dari keshalehan pribadinya yang sangat kental dan menyentuh hati para murid. Beliau sukses mendidik tokoh-tokoh besar seperti Imam Al-Auza’i yang kelak melanjutkan kepemimpinan ilmu di negeri Syam. Beliau juga terkenal sangat pemurah dan senantiasa membantu kesulitan finansial para penuntut ilmu yang kurang mampu. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah menjadikan Syam sebagai pusat peradaban ilmu yang sangat cemerlang. Beliau berhasil menanamkan prinsip bahwa kemuliaan seseorang terletak pada ketakwaan, bukan pada status sosial atau asal-usul keturunannya.

Wafatnya Sang Fakih Negeri Syam

Pada akhirnya, Makhul Al-Syami رحمه الله wafat di Damaskus sekitar tahun 112 Hijriah pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi umat Islam karena hilangnya sang samudera ilmu yang sangat luas. Meskipun jasad beliau telah tiada, namun warisan fikih dan riwayat haditsnya tetap abadi dalam khazanah kitab-kitab para ulama.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kerja keras dan keikhlasan akan menghantarkan seseorang pada puncak kemuliaan. Beliau membuktikan bahwa keterbatasan masa lalu sebagai seorang budak tidak menghalangi seseorang untuk menjadi pemimpin umat. Walaupun zaman terus berganti, sosok Makhul Al-Syami akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi jalan bagi para pencinta Sunnah.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top