Sang Jenius Bahasa dan Penjaga Lisan Arab
Khalil bin Ahmad Al-Farahidi رحمه الله lahir di Oman pada tahun 100 Hijriah dan menghabiskan sebagian besar usianya di Bashrah. Beliau merupakan tokoh paling fenomenal yang berhasil meletakkan dasar-dasar ilmu bahasa Arab secara sistematis. Kecerdasan beliau yang luar biasa sukses melahirkan penemuan besar seperti ilmu Arudh untuk syair Arab serta penyusunan kamus pertama dalam Islam yang bernama Kitab Al-Ain.
Guru Besar dan Penemu Ilmu Arudh
Awalnya, Khalil bin Ahmad رحمه الله menimba ilmu dari para ulama besar di zamannya seperti Ayyub As-Sikhtiyani dan Asim Al-Ahwal. Beliau memiliki ketekunan yang menakjubkan dalam meneliti struktur kata dan nada dalam bahasa Arab. Allah ﷻ menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang beriman dan berilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, penemuan paling bersejarah dari Khalil adalah ilmu Arudh, yakni timbangan atau kaidah nada dalam syair Arab. Beliau merumuskan ilmu ini setelah mendengarkan ketukan palu tukang tembaga di pasar yang memiliki irama beraturan. Maka, setiap bait syair Arab sejak masa itu dapat terukur keindahannya melalui kaidah-kaidah yang beliau susun secara rapi.
Keshalehan dan Kezuhudan Sang Imam
Selain cerdas dalam bidang bahasa, Khalil bin Ahmad Al-Farahidi رحمه الله terkenal karena sifat zuhudnya yang sangat mendalam. Beliau memilih hidup dalam kesederhanaan meskipun memiliki banyak peluang untuk meraih kekayaan melalui kedekatan dengan para penguasa. Beliau meyakini bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketaatan kepada Allah ﷻ dan pengabdian tulus kepada umat. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya di hari kiamat (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, beliau senantiasa membantu para penuntut ilmu tanpa mengharap balasan materi sedikit pun. Beliau sering kali terlihat mengenakan pakaian yang sederhana dan tinggal di rumah yang sangat mungil di kota Bashrah. Beliau sukses membuktikan bahwa seorang intelektual besar tetap mampu menjaga kesucian jiwanya dari gemerlap duniawi yang melalaikan. Kedermawanan beliau tercermin dari kerelaannya membagikan seluruh penemuannya secara gratis kepada siapa saja yang mau belajar.
Mendidik Sibawaih dan Menjaga Bahasa Al-Quran
Kemudian, jasa terbesar Khalil bin Ahmad Al-Farahidi رحمه الله adalah keberhasilannya dalam mendidik Sibawaih, sang ahli nahwu paling tersohor. Beliau menanamkan kecintaan yang mendalam terhadap bahasa Arab sebagai kunci untuk memahami Al-Quran dan Sunnah secara benar. Beliau memahami bahwa menjaga bahasa Arab merupakan bagian dari menjaga agama Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya Al-Quran yang berbahasa Arab:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Quran berbahasa Arab agar kamu memahaminya (QS. Yusuf: 2).
Oleh karena itu, kewibawaan beliau dalam dunia linguistik tidak pernah tergoyahkan hingga detik ini. Beliau juga berperan besar dalam menyempurnakan sistem tanda baca atau harakat pada tulisan Arab agar umat Islam tidak salah dalam membaca kitab suci. Selain itu, beliau sukses menciptakan metode ijtihad bahasa yang sangat akurat dan menjadi fondasi bagi seluruh ahli bahasa setelahnya. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah menyelamatkan kemurnian bahasa Al-Quran dari pengaruh bahasa asing yang masuk ke wilayah Islam.
Wafatnya Sang Penjaga Cahaya Ilmu
Pada akhirnya, Khalil bin Ahmad Al-Farahidi رحمه الله wafat di Bashrah pada tahun 170 Hijriah. Kepergian beliau membawa duka yang sangat mendalam bagi seluruh dunia intelektual Islam karena hilangnya sang jenius yang tiada duanya. Meskipun raga beliau telah tiada, namun setiap kata dalam kamus bahasa Arab dan setiap bait syair yang berirama menjadi saksi atas kebesaran ilmunya.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kecerdasan yang tinggi harus berbanding lurus dengan kerendahan hati. Beliau membuktikan bahwa satu orang yang ikhlas dapat memberikan sumbangsih yang sangat luas bagi perkembangan peradaban umat manusia. Walaupun zaman terus berganti, sosok Khalil bin Ahmad Al-Farahidi akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi jalan bagi para pencinta bahasa Arab.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


