Suasana bulan Syawal senantiasa identik dengan momen saling mengunjungi dan memaafkan di antara sesama Muslim. Tradisi mulia ini memiliki landasan yang sangat kuat dalam syariat Islam karena mengandung keberkahan yang luar biasa. Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa menyambung tali persaudaraan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kunci pembuka pintu langit.
Keutamaan Melapangkan Rezeki dan Umur
Islam menjanjikan balasan yang nyata bagi setiap hamba yang gemar menjaga hubungan baik dengan sanak saudaranya. Selain mendapatkan pahala di akhirat, orang yang gemar bersilaturahmi akan merasakan dampak positif langsung dalam kehidupan dunianya. Allah ﷻ memberikan kelapangan rezeki serta keberkahan umur sebagai imbalan atas ketulusan kita dalam menyambung kasih sayang.
Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim).
Tentu saja, janji ini menjadi motivasi besar bagi kita untuk tetap menjalin komunikasi meskipun di tengah kesibukan yang padat. Keajaiban silaturahmi akan mengubah hubungan yang kaku menjadi hangat dan penuh dengan keberkahan dari Sang Pencipta.
Menghapus Dosa Lewat Jabat Tangan
Selanjutnya, momen silaturahmi merupakan sarana yang sangat efektif untuk menggugurkan dosa-dosa kecil di antara sesama manusia. Ketika dua orang Muslim bertemu lalu saling berjabat tangan dengan tulus, maka Allah ﷻ memberikan ampunan sebelum mereka berpisah. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan dalam pergaulan masyarakat.
Sahabat Al-Bara bin Azib رضي الله عنه meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ mengenai keutamaan ini:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
Tidaklah ada dua orang Muslim yang bertemu kemudian saling berjabat tangan, kecuali dosa keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).
Oleh karena itu, janganlah kita memelihara rasa gengsi atau dendam yang menghalangi kita untuk memulai sebuah kebaikan. Menghadirkan senyuman dan jabat tangan saat bertemu kerabat akan membersihkan hati dari noda-noda kebencian yang merusak iman.
Ancaman bagi Pemutus Tali Persaudaraan
Terakhir, kita harus sangat waspada terhadap bahaya memutus tali silaturahmi karena ancamannya sangatlah berat. Allah ﷻ sangat membenci hamba yang membiarkan hubungan persaudaraannya hancur akibat egoisme atau urusan duniawi yang sepele. Ketegasan syariat dalam hal ini bertujuan agar umat Islam tetap bersatu dan tidak mudah terpecah belah oleh hasutan setan.
Allah ﷻ memberikan peringatan keras melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS. Muhammad: 22).
Kesimpulannya, marilah kita jadikan bulan Syawal ini sebagai momentum untuk menyatukan kembali hati yang sempat menjauh. Fokuslah pada mencari keridhaan Allah ﷻ dengan menjadi pribadi yang paling dahulu mengulurkan tangan maaf kepada sesama. Akhirnya, semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga keutuhan ukhuwah kita dan memberkahi setiap langkah silaturahmi yang kita tempuh.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

