Banyak orang sering terjebak dalam semangat yang meluap-luap di awal suatu ibadah, namun sayangnya semangat tersebut memudar dengan cepat. Hal ini terjadi karena mereka biasanya langsung mengambil beban amalan yang sangat berat sehingga jiwa merasa terbebani. Padahal, Islam sangat menekankan prinsip istiqamah, yaitu konsistensi dalam melakukan kebaikan meskipun amalan tersebut terlihat sederhana. Dengan menjaga amalan kecil secara berkelanjutan, seorang mukmin justru akan meraih kedudukan yang lebih mulia di sisi Allah ﷻ.
Makna Istiqamah dalam Beribadah
Istiqamah secara bahasa berarti tegak lurus, namun dalam konteks syariat ia bermakna tetap teguh di atas ketaatan kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa istiqamah karena hal ini merupakan kunci meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Tanpa konsistensi, amal perbuatan manusia hanya akan menjadi aktivitas musiman yang tidak membekas di dalam hati.
Allah ﷻ memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang teguh dalam keimanan:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fussilat: 30)
Selanjutnya, janji Allah ﷻ ini membuktikan bahwa istiqamah adalah jalan utama menuju ketenangan jiwa dan kemuliaan di akhirat.
Keutamaan Amal yang Rutin Meskipun Sedikit
Rasulullah ﷺ sangat mencintai amalan yang terus-menerus seorang hamba lakukan, walaupun jumlahnya mungkin tidak seberapa di mata manusia. Beliau ﷺ mendidik umatnya agar tidak memaksakan diri dalam beribadah secara berlebihan yang akhirnya berujung pada kebosanan. Melalui konsistensi yang terjaga, amalan kecil tersebut justru akan menjadi pemberat timbangan pahala yang sangat luar biasa.
Sahabat Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling konsisten (rutin) meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian, dengan menjaga rutinitas tersebut, kita sebenarnya sedang membangun benteng perlindungan bagi iman kita dari godaan futur atau malas.
Bahaya Bersikap Berlebihan dalam Ibadah
Di sisi lain, mengambil beban ibadah di luar batas kemampuan sering kali mendatangkan kemudaratan bagi pelakunya. Seseorang mungkin sanggup shalat malam selama satu jam di hari pertama, tetapi kemudian ia meninggalkannya sama sekali karena merasa kelelahan. Oleh karena itu, mulailah dengan langkah kecil yang stabil agar semangat ibadah tetap hidup sepanjang waktu.
Lebih lanjut, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan mengenai hal ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash رضي الله عنهما:
يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si fulan, dahulu ia sering shalat malam namun sekarang ia meninggalkan shalat malam tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)
Langkah Praktis Menjaga Keistiqamahan
Akhirnya, kita memerlukan strategi yang tepat agar tetap konsisten dalam jalur ketaatan.
-
Pertama, tentukan satu amal kecil yang mampu Anda kerjakan setiap hari, seperti shalat witir satu rakaat atau sedekah seribu rupiah.
-
Kedua, lakukan amalan tersebut di waktu yang sama agar terbentuk menjadi sebuah kebiasaan yang melekat.
-
Ketiga, bertemanlah dengan orang-orang yang rajin beribadah guna menjaga motivasi diri.
-
Terakhir, jangan lupa untuk selalu memohon keteguhan hati kepada Allah ﷻ melalui doa yang Nabi ﷺ ajarkan.
Sahabat Ummu Salamah رضي الله عنها menceritakan bahwa doa yang paling sering Rasulullah ﷺ baca adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Sunan Tirmidzi)
Kesimpulan
Seorang muslim yang cerdas adalah mereka yang lebih mengutamakan keberlanjutan daripada jumlah amalan yang sesaat. Amalan kecil yang dikerjakan dengan istiqamah akan membawa kita pada kedamaian dan cinta Allah ﷻ. Semoga kita semua mendapatkan kekuatan untuk terus berbuat baik hingga akhir hayat nanti.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

