Imam At-Tirmidzi رحمه الله

Sang Pakar Hadits dan Pionir Klasifikasi Hasan

Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Adh-Dhahhak As-Sulami At-Tirmidzi رحمه الله lahir pada tahun 209 Hijriah di sebuah desa bernama Bugh, dekat kota Tirmidz. Beliau merupakan salah satu pilar utama dalam dunia hadits yang memiliki kontribusi sangat besar bagi perkembangan ilmu syariat Islam. Masyarakat luas mengenal beliau melalui kitab Jami’ At-Tirmidzi, sebuah karya yang masuk dalam jajaran enam kitab hadits utama atau Kutubus Sittah. Beliau sukses menempatkan dirinya sebagai ulama yang sangat teliti dalam menilai derajat sebuah riwayat serta memilah pendapat para ahli fikih.

Perjalanan Ilmiah dan Daya Ingat yang Fenomenal

Awalnya, Imam At-Tirmidzi رحمه الله memulai pengembaraan ilmiahnya dengan mendatangi pusat-pusat ilmu di Khurasan, Irak, dan Hijaz guna menemui para guru besar. Beliau memiliki daya ingat yang sangat luar biasa sehingga mampu menghafal puluhan hadits hanya dalam satu kali pendengaran secara akurat. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan melalui firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, ketulusan beliau dalam menuntut ilmu mempertemukannya dengan sosok guru yang paling beliau cintai, yaitu Imam Al-Bukhari. Beliau sukses menyerap metodologi kritik hadits yang sangat tajam dan mendalam langsung dari sang Amirul Mukminin fil Hadits tersebut. Maka, kedekatan spiritual dan intelektual dengan gurunya tersebut menjadikan beliau sebagai salah satu pewaris utama ilmu hadits yang murni. Beliau memahami bahwa menjaga setiap sabda Rasulullah ﷺ merupakan tugas suci yang menuntut kejujuran serta ketelitian yang tanpa batas.

Keistimewaan Jami’ At-Tirmidzi dan Istilah Hasan

Selain ahli hadits, Imam At-Tirmidzi رحمه الله sangat terkenal karena beliau mempelopori penggunaan istilah hadits hasan secara luas dalam klasifikasi keaslian riwayat. Beliau menyusun kitabnya dengan memberikan penjelasan mengenai derajat setiap hadits serta menyebutkan kesepakatan maupun perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh umatnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, karya beliau menjadi sangat istimewa karena menyatukan ilmu hadits dengan ilmu fikih dalam satu wadah yang sangat sistematis dan mudah dipahami. Beliau sukses memberikan kemudahan bagi para penuntut ilmu untuk mengetahui dalil-dalil yang menjadi sandaran hukum dalam berbagai madzhab yang ada. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati dan sering menangis karena rasa takutnya yang mendalam kepada Allah ﷻ hingga matanya mengalami kebutaan di akhir hayatnya. Sifat wara’ yang beliau miliki menjadikannya tetap fokus pada pengabdian ilmu meskipun beliau hidup dalam kesederhanaan yang sangat bersahaja. Beliau berhasil membuktikan bahwa kehebatan seorang alim terletak pada kemampuannya memberikan manfaat yang nyata bagi umat Islam di seluruh dunia.

Keshalehan dan Wafatnya Sang Penjaga Sunnah

Kemudian, sisi spiritual Imam At-Tirmidzi رحمه الله terpancar melalui kitab Syamail Al-Muhammadiyah yang beliau tulis untuk menggambarkan keagungan akhlak dan fisik Rasulullah ﷺ. Beliau meyakini bahwa mengenal pribadi Nabi ﷺ secara mendalam adalah kunci untuk mencintai dan mengikuti Sunnah beliau dengan sempurna. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenarnya dalam Al-Quran:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, setiap baris kalimat dalam karyanya selalu beliau tulis dengan penuh rasa hormat dan kecintaan yang tulus kepada kebenaran wahyu. Beliau sukses mendidik banyak murid hebat yang kelak menjadi pembela akidah dan Sunnah di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat sabar dalam melayani pertanyaan-pertanyaan sulit mengenai status perawi dan matan hadits yang rumit. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah literatur Islam dengan dokumentasi hadits yang sangat objektif dan terpercaya.

Pada akhirnya, Imam At-Tirmidzi رحمه الله wafat di kota kelahirannya, Tirmidz, pada tahun 279 Hijriah dalam usia tujuh puluh tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi seluruh dunia Islam karena hilangnya salah satu lentera ilmu yang sangat terang. Meskipun raga beliau telah dikebumikan, namun kitab Jami’ dan Syamail-nya tetap hidup menyinari jalan para pencari kebenaran sejati. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kejujuran ilmiah dan keshalehan pribadi merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan dalam meraih keridhaan Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top