Sang Pembela Sunnah dan Arsitek Ushul Fiqh
Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i رحمه الله lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 Hijriah, tepat pada tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Beliau merupakan keturunan Quraisy yang nasabnya bersambung dengan Rasulullah ﷺ pada kakeknya, Abdul Manaf. Sejarah mengenal beliau sebagai Nashiruz Sunnah (Pembela Sunnah) karena kegigihannya dalam menjaga kemurnian ajaran Nabi ﷺ melalui metodologi ilmu yang sangat kokoh.
Perjalanan Menuntut Ilmu dan Kecerdasan yang Fenomenal
Awalnya, Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله tumbuh sebagai anak yatim dalam keadaan ekonomi yang sangat terbatas di Mekkah. Namun, keterbatasan tersebut justru memacu semangat beliau untuk menghafal Al-Quran pada usia tujuh tahun dan kitab Al-Muwatta karya Imam Malik pada usia sepuluh tahun. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi para penuntut ilmu sebagaimana firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, beliau melakukan rihlah ilmiah ke Madinah untuk berguru kepada Imam Malik bin Anas hingga sang guru wafat. Beliau sukses memadukan madrasah hadits dari Hijaz dan madrasah ra’yi (logika) dari Irak menjadi sebuah metodologi hukum yang seimbang. Maka, kepandaian beliau dalam bahasa Arab dan sastra turut membantu dalam memahami kedalaman makna ayat-ayat hukum. Beliau memahami bahwa kunci utama dalam memahami syariat adalah penguasaan bahasa Al-Quran yang sempurna serta ketelitian dalam menyeleksi riwayat.
Peletak Dasar Ilmu Ushul Fiqh
Selain ahli fikih, Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله merupakan tokoh pertama yang membukukan kaidah-kaidah pengambilan hukum dalam kitabnya, Ar-Risalah. Beliau menyusun sistematika berpikir agar para ulama tidak terjebak dalam penafsiran yang menyimpang dari maksud asli wahyu. Beliau memegang teguh kejujuran ilmiah dan selalu mendahulukan hadits shahih di atas pendapat pribadinya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, setiap fatwa yang beliau keluarkan selalu memiliki argumen dalil yang sangat kuat dan berlapis. Beliau sukses membangun jembatan antara teks wahyu dengan realitas kehidupan melalui konsep ijtihad yang terukur. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati dan sering mendoakan kebaikan bagi para pengkritiknya. Sifat tawadhu beliau terlihat dari ucapannya yang terkenal bahwa beliau lebih mencintai kebenaran meskipun lahir dari lisan lawannya. Beliau berhasil membuktikan bahwa kedalaman ilmu seharusnya melahirkan kelapangan dada dalam menghadapi perbedaan pendapat.
Keshalehan dan Ketajaman Ibadah Malam
Kemudian, sisi spiritual Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله tercermin dari pembagian waktu malamnya yang sangat disiplin antara istirahat, belajar, dan shalat. Beliau terbiasa menghatamkan Al-Quran berkali-kali, terutama saat bulan Ramadhan, sebagai bentuk kecintaan kepada kalamullah. Beliau meyakini bahwa nur ilmu hanya akan bersemayam di hati yang bersih dan penuh dengan ketakwaan. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter ulama yang sesungguhnya:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses memberikan pengaruh besar bagi setiap orang yang menghadiri majelis ilmunya. Beliau sukses mendidik murid-murid hebat seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang sangat memuliakan kedudukan gurunya tersebut. Beliau juga terkenal sangat dermawan dan sering menghabiskan pemberian orang lain untuk membantu para penuntut ilmu yang fakir. Pengabdian beliau di Irak dan Mesir telah melahirkan Madzhab Syafi’i yang kini dianut oleh mayoritas penduduk dunia Islam. Beliau berhasil menunjukkan bahwa integritas seorang alim terletak pada kesesuaian antara ilmu, amalan, dan pembelaannya terhadap Sunnah.
Wafatnya Sang Mujaddid Abad Kedua
Pada akhirnya, Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله wafat di Mesir pada tahun 204 Hijriah dalam usia yang relatif muda, yakni 54 tahun. Kepergian beliau membawa duka yang sangat mendalam bagi seluruh umat Islam di penjuru timur dan barat. Meskipun raga beliau telah dikebumikan di tanah Mesir, namun karya-karya besarnya tetap menjadi rujukan utama dalam pengadilan dan lembaga pendidikan Islam.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa keikhlasan dalam membela kebenaran akan abadi sepanjang masa. Beliau membuktikan bahwa metodologi yang kokoh adalah benteng terbaik bagi agama dari penyimpangan logika manusia yang liar. Walaupun zaman terus berganti, sosok Imam Asy-Syafi‘i akan selalu sejarah kenang sebagai sang matahari yang menyinari dunia ilmu pengetahuan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


