Sang Pakar Hadits dengan Ketelitian yang Sangat Tajam
Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan Abu Abdurrahman An-Nasa’i رحمه الله lahir di kota Nasa pada tahun 215 Hijriah. Beliau tumbuh menjadi salah satu pilar utama dalam dunia hadits yang memiliki ketelitian sangat luar biasa dalam menilai kualitas perawi. Umat Islam di seluruh dunia mengenal beliau melalui karya agungnya, Sunan An-Nasa’i, yang menempati posisi istimewa dalam jajaran Kutubus Sittah. Beliau sukses mendedikasikan hidupnya untuk menyaring ribuan riwayat agar umat mendapatkan tuntunan yang paling murni dari Rasulullah ﷺ.
Pengembaraan Ilmiah dan Kedalaman Pemahaman
Awalnya, Imam An-Nasa’i رحمه الله memulai rihlah ilmiahnya sejak usia belia dengan mendatangi pusat-pusat ilmu di Khurasan, Irak, Hijaz, hingga Mesir. Beliau menetap lama di Mesir dan menjadi rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang haus akan keshahihan hadits Nabi ﷺ. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketegasan beliau dalam menguji kredibilitas para perawi menjadikan karya-karyanya sangat disegani oleh para ulama sezamannya. Beliau tidak hanya menghimpun teks hadits, tetapi juga sangat mendalami seluk-beluk cacat tersembunyi dalam sebuah sanad. Maka, banyak pakar hadits menilai bahwa syarat keshahihan dalam Sunan An-Nasa’i hampir menyamai ketatnya syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beliau memahami bahwa kejujuran dalam menyampaikan sabda Nabi ﷺ merupakan amanah ilmiah yang sangat berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah ﷻ.
Karakteristik Sunan An-Nasa’i dan Kejujuran Beragama
Selain ahli hadits, Imam An-Nasa’i رحمه الله sangat terkenal karena sifatnya yang sangat berhati-hati dalam mencantumkan hadits ke dalam kitabnya. Beliau menyusun kitab Al-Mujtaba sebagai ringkasan dari karya besarnya guna menyajikan hadits-hadits yang memiliki tingkat keshahihan yang sangat tinggi. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh pengikutnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, beliau sukses menyajikan urutan hadits yang sangat sistematis sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami konteks hukum syariat. Beliau sering kali mengulang sebuah hadits pada bab yang berbeda guna menunjukkan keragaman faedah fikih yang terkandung di dalamnya. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat menjaga kehormatan diri serta memiliki keberanian yang tinggi dalam menyuarakan kebenaran di hadapan siapa pun. Sifat wara’ yang beliau miliki menjadikannya tetap istiqamah dalam mengamalkan ilmu meskipun beliau harus menghadapi berbagai cobaan fisik di masa tuanya. Beliau berhasil membuktikan bahwa kehebatan seorang alim terletak pada kemampuannya menjaga integritas antara perkataan dan perbuatannya secara nyata.
Keshalehan Pribadi dan Wafatnya Sang Imam
Kemudian, sisi spiritual Imam An-Nasa’i رحمه الله terpancar melalui kebiasaan ibadahnya yang sangat luar biasa seperti puasa Dawud yang beliau jalankan secara rutin. Beliau meyakini bahwa kedalaman ilmu syariat haruslah diiringi dengan ketaatan yang tulus guna meraih keridhaan Sang Pencipta. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama sejati dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses mendidik generasi ulama hebat yang terus menjaga estafet perjuangan dakwah Islam di berbagai wilayah. Beliau sukses menanamkan prinsip bahwa ilmu hadits adalah benteng pertahanan umat agar tidak tergelincir ke dalam kesesatan dan bid’ah. Beliau juga terkenal sebagai sosok yang sangat sederhana namun memiliki kewibawaan yang sangat besar di mata para murid dan penguasa. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkaya khazanah intelektual Muslim dengan dokumentasi Sunnah yang sangat otentik dan terpercaya bagi seluruh dunia.
Pada akhirnya, Imam An-Nasa’i رحمه الله wafat di kota Ramlah, Palestina, pada tahun 303 Hijriah setelah mengalami kelelahan dan cobaan fisik yang berat. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh umat Islam karena hilangnya salah satu penjaga Sunnah yang paling teliti. Meskipun raga beliau telah dikebumikan, namun kitab Sunan An-Nasa’i tetap abadi menyinari jalan para pencari kebenaran sejati hingga hari kiamat. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa dedikasi tulus terhadap ilmu akan membuahkan keberkahan yang tak pernah putus bagi peradaban.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



