Sang Pakar Fikih dalam Barisan Ahli Hadits
Sulaiman bin Al-Asy’ats bin Ishaq Al-Azdi As-Sijistani رحمه الله lahir pada tahun 202 Hijriah di daerah Sijistan. Beliau tumbuh menjadi sosok ulama besar yang sangat berjasa dalam mengklasifikasikan hadits-hadits hukum bagi umat Islam. Dunia mengenal beliau melalui karya monumentalnya, Sunan Abu Dawud, yang menjadi pilar utama dalam urutan Kutubus Sittah. Beliau sukses memilah ribuan riwayat untuk menyajikan panduan praktis bagi para fakih dan masyarakat dalam menjalankan ibadah serta muamalah.
Perjalanan Ilmiah Menuju Puncak Kealiman
Awalnya, Imam Abu Dawud رحمه الله memulai rihlah ilmiahnya sejak usia remaja dengan mengunjungi berbagai pusat peradaban Islam yang kaya akan ilmu. Beliau menempuh perjalanan jauh ke wilayah Irak, Syam, Mesir, hingga Hijaz guna berguru kepada para ulama paling terkemuka. Allah ﷻ menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, beliau sukses menimba ilmu langsung dari Imam Ahmad bin Hanbal yang sangat beliau kagumi dan hormati karakternya. Beliau tidak hanya sekadar menghafal matan hadits, namun juga mendalami keshahihan sanad serta kandungan hukum di dalamnya secara mendetail. Maka, ketekunan beliau membuahkan pengakuan luas dari para ulama sezamannya sebagai salah satu penjaga Sunnah yang paling teliti. Beliau memahami bahwa kejujuran dalam menyampaikan sabda Nabi ﷺ merupakan fondasi utama bagi keselamatan agama umat Islam.
Karakteristik Sunan Abu Dawud dan Kejujuran Ilmiah
Selain ahli hadits, Imam Abu Dawud رحمه الله sangat terkenal karena kemampuannya dalam menyusun hadits berdasarkan bab-bab fikih yang sangat memudahkan pembaca. Beliau hanya memilih hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum syariat guna memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat luas. Beliau memegang teguh kejujuran dalam beragama sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada seluruh pengikutnya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, beliau sukses menyaring sekitar lima ribu hadits pilihan dari total lima ratus ribu hadits yang beliau kuasai dengan sangat matang. Beliau sering kali memberikan catatan kritis terhadap hadits yang beliau cantumkan guna memberikan transparansi ilmiah bagi para penuntut ilmu. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat sederhana serta memiliki sifat wara’ yang sangat kuat dalam menjaga kehormatan dirinya. Sifat tawadhu beliau menjadikannya tetap rendah hati meskipun ia sering menjadi rujukan utama bagi para khalifah dan gubernur di Baghdad. Beliau berhasil membuktikan bahwa kehebatan seorang alim terletak pada kemanfaatannya dalam membimbing umat menuju kebenaran yang hakiki.
Keshalehan dan Wafatnya Sang Penjaga Sunnah
Kemudian, sisi spiritual Imam Abu Dawud رحمه الله terpancar melalui ketekunannya dalam menjalankan ibadah malam dan ketaatan yang istiqamah. Beliau meyakini bahwa seorang ulama yang benar adalah mereka yang paling takut kepada Allah ﷻ dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenar-benarnya dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses mendidik generasi ulama hebat seperti Imam At-Tirmidzi dan Imam An-Nasa’i yang menjadi murid setia beliau. Beliau sukses menanamkan prinsip bahwa ilmu tanpa amal adalah hampa, sehingga setiap hadits yang beliau riwayatkan selalu diiringi dengan keteladanan akhlak. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat teguh dalam memegang prinsip keadilan dan tidak pernah tergiur oleh kemewahan duniawi yang fana. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkokoh fondasi syariat Islam melalui dokumentasi hadits hukum yang sangat sistematis dan tepercaya.
Pada akhirnya, Imam Abu Dawud رحمه الله wafat di kota Bashrah pada tahun 275 Hijriah dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Kepergian beliau meninggalkan warisan intelektual yang tak ternilai harganya bagi perkembangan ilmu fikih dan hadits di seluruh dunia. Meskipun raga beliau telah dikebumikan, namun kitab Sunannya tetap menjadi rujukan utama bagi setiap Muslim yang ingin mempelajari Sunnah Nabi ﷺ. Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa dedikasi yang tulus terhadap ilmu akan membuahkan keberkahan yang abadi bagi umat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



