Hasan Al-Bashri رحمه الله

Samudra Ilmu dan Mutiara Hikmah dari Bashrah

Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 Hijriah, tepat dua tahun sebelum masa kekhalifahan Umar bin Khattab رضي الله عنه berakhir. Beliau merupakan putra dari Khairah, yang merupakan asisten rumah tangga Ummul Mukminin Ummu Salamah رضي الله عنها. Sejarah mencatat bahwa beliau tumbuh di bawah asuhan istri Nabi ﷺ, sehingga beliau menyerap kelembutan adab dan ketinggian ilmu sejak masih bayi.

Tumbuh di Bawah Naungan Kenabian

Awalnya, Hasan Al-Bashri mendapatkan keberkahan karena Ummu Salamah رضي الله عنها sering menyusuinya ketika ibunya sedang berhalangan. Oleh karena itu, para ulama meyakini bahwa kefasihan lisan dan hikmah yang luar biasa pada dirinya merupakan buah dari keberkahan rumah tangga Rasulullah ﷺ. Beliau juga sempat didoakan langsung oleh Umar bin Khattab رضي الله عنه agar menjadi orang yang paham agama dan dicintai umat. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi hamba-Nya yang mendalami agama melalui firman-Nya:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak (QS. Al-Baqarah: 269).

Selanjutnya, beliau pindah ke kota Bashrah dan menjadi rujukan utama dalam bidang tafsir, hadits, serta penyucian jiwa. Beliau sukses memikat hati penduduk Irak dengan nasihat-nasihatnya yang menggetarkan sanubari. Maka, setiap kali beliau berbicara di depan publik, suasana majelis akan menjadi hening karena semua orang terpesona oleh kedalaman makna ucapannya.

Sang Ulama yang Teguh di Hadapan Penguasa

Selain pakar ilmu, Hasan Al-Bashri رحمه الله terkenal karena keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut. Beliau hidup di masa-masa penuh fitnah politik, namun beliau tetap konsisten menjaga netralitas dan kejujuran lisannya. Dan Beliau tidak segan menegur gubernur Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi ketika sang penguasa tersebut bertindak melampaui batas. Beliau meyakini bahwa ketaatan sejati hanya boleh diberikan kepada Allah ﷻ dan rasul-Nya.

Ketaatan beliau selaras dengan ajaran Rasulullah ﷺ yang Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه riwayatkan:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, kewibawaan beliau justru semakin meningkat meskipun sering mendapatkan ancaman dari pihak berwenang. Beliau memahami bahwa keselamatan seorang mukmin terletak pada keteguhannya dalam membela prinsip syariat. Selain itu, beliau sukses mendidik generasi baru yang memiliki integritas moral yang tinggi di tengah perubahan zaman yang serba cepat.

Kezuhudan dan Kedalaman Rasa Takut kepada Allah ﷻ

Kemudian, ciri khas yang paling menonjol dari Hasan Al-Bashri رحمه الله adalah kezuhudannya terhadap dunia. Beliau sering kali menggambarkan dunia sebagai jembatan yang rapuh sehingga manusia tidak boleh membangun kemewahan di atasnya. Beliau meyakini bahwa rasa takut kepada hari pembalasan harus menjadi mesin penggerak amalan setiap hari. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama sejati:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, wajah beliau sering terlihat sedih dan penuh perenungan seolah-olah neraka baru saja diciptakan untuknya. Beliau selalu menjaga lisan dari ghibah dan senantiasa menghidupkan malamnya dengan shalat serta istighfar yang panjang. Ketulusan hatinya membuat setiap orang yang duduk bersamanya merasa bahwa dunia ini sangat kecil dan remeh. Beliau berhasil membuktikan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu membawa pemiliknya semakin dekat kepada Sang Pencipta.

Akhir Hayat Sang Mutiara Bashrah

Pada akhirnya, Hasan Al-Bashri رحمه الله wafat di Bashrah pada tahun 110 Hijriah dalam usia 89 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka yang amat mendalam hingga seluruh penduduk Bashrah mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Beliau meninggalkan warisan berupa mutiara-mutiara hikmah yang masih dibaca dan dipelajari oleh umat Islam hingga detik ini.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kedekatan dengan orang shalih akan membawa pengaruh besar dalam karakter seseorang. Beliau membuktikan bahwa keberanian yang lahir dari keikhlasan akan selalu menang atas kekuatan apa pun di dunia. Walaupun zaman terus berganti, sosok Hasan Al-Bashri akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi hati para pencari akhirat.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top