Penghujung bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat berharga bagi setiap mukmin untuk memperkuat hubungan dengan Sang Khalik. Pada masa-masa ini, setiap tetesan air mata dan untaian doa memiliki nilai yang sangat istimewa di sisi Allah ﷻ. Oleh karena itu, kita sebaiknya memfokuskan diri pada permohonan ampunan dan keselamatan agar keluar dari bulan suci dalam keadaan bersih.
Memohon Ampunan dengan Doa Lailatul Qadar
Fokus utama kita di akhir Ramadhan adalah mengejar ampunan Allah ﷻ yang Maha Luas melalui doa dari Rasulullah ﷺ. Doa ini sangat singkat namun mencakup segala kebutuhan hamba akan belas kasih Tuhannya yang senang memaafkan. Kita sebaiknya terus mengulang kalimat ini dalam setiap sujud dan waktu-waktu mustajab.
Sahabat Aisyah رضي الله عنها pernah bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai doa yang harus ia baca pada malam kemuliaan, lalu beliau ﷺ bersabda:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku (HR. At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
Tentu saja, meminta maaf kepada Allah ﷻ merupakan pengakuan bahwa kita adalah makhluk yang penuh dengan kekhilafan selama beribadah. Melalui doa tersebut, kita berharap Allah ﷻ menghapus seluruh noda dosa yang melekat pada hati sebelum hari kemenangan tiba.
Meminta Keteguhan Hati agar Istiqamah
Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan kualitas ibadah setelah Ramadhan berakhir. Oleh sebab itu, kita sangat butuh memanjatkan doa agar Allah ﷻ meneguhkan hati kita di atas ketaatan kepada agama-Nya. Rasulullah ﷺ sendiri sangat sering membaca doa ini sebagai bentuk ketergantungan kepada Allah ﷻ.
Sahabat Ummu Salamah رضي الله عنها menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ paling sering mengucapkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu (HR. At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
Selain itu, Allah ﷻ juga memberikan tuntunan doa di dalam Al-Qur’an agar hamba-Nya tidak tersesat setelah mendapatkan hidayah. Allah ﷻ berfirman:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu (QS. Ali Imran: 8).
Doa Agar Allah Menerima Amal Ibadah
Terakhir, rasa takut jika Allah tidak menerima amal merupakan sifat mulia yang dimiliki oleh para salafus sholeh. Meskipun kita telah berusaha maksimal, kita tetap harus rendah hati dan memohon agar Allah ﷻ berkenan menerima segala rukuk dan sujud kita. Ketulusan dalam meminta hal ini akan menjauhkan kita dari sifat sombong.
Nabi Ibrahim Alaihissalam memberikan contoh abadi saat membangun Ka’bah dengan memanjatkan doa yang tulus kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ﷻ:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Wahai Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 127).
Kesimpulannya, marilah kita hiasi malam-malam terakhir ini dengan lisan yang senantiasa basah dengan zikir dan doa. Fokuslah pada permohonan yang membawa kebaikan dunia dan akhirat agar hidup kita dipenuhi dengan keberkahan. Akhirnya, semoga Allah ﷻ mengijabah seluruh doa kita dan menjadikan kita sebagai hamba yang bertakwa.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|
