Sang Pemimpin Ulama Hadits dari Bashrah
Ayyub bin Abi Tamimah Kaisan As-Sikhtiyani رحمه الله lahir pada tahun 66 Hijriah dan tumbuh menjadi permata ilmu di kota Bashrah. Beliau merupakan salah satu tokoh utama dari kalangan Tabi’in yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam bidang hadits dan fikih. Para ulama sezamannya mengenal beliau sebagai pribadi yang sangat tawadu, wara’, serta memiliki keteguhan luar biasa dalam menjaga kemurnian Sunnah Nabi ﷺ.
Menimba Ilmu dari Para Penjaga Wahyu
Awalnya, Ayyub As-Sikhtiyani رحمه الله berguru kepada para sahabat dan tabi’in senior seperti Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri, dan Muhammad bin Sirin رضي الله عنهم. Beliau menyerap setiap riwayat dengan ketelitian yang sangat tinggi sehingga ingatannya menjadi rujukan para ulama lainnya. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang berupaya keras menuntut ilmu agama. Allah ﷻ berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketulusan Ayyub dalam belajar membuahkan hasil berupa pemahaman agama yang sangat mendalam dan jernih. Beliau sukses menjadi guru bagi para imam besar setelahnya, termasuk Imam Malik bin Anas yang sangat menghormati kualitas ilmunya. Maka, keberadaan beliau di majelis ilmu selalu menghadirkan ketenangan serta kepastian dalil bagi siapa saja yang hadir mendengarkan.
Kesalehan Hidup dan Sifat Wara’
Selain cerdas, Ayyub As-Sikhtiyani رحمه الله sangat terkenal karena sifat zuhud dan keshalehan pribadinya yang sangat kuat. Beliau senantiasa menjauhkan diri dari gemerlap dunia dan memilih hidup dalam kesederhanaan demi menjaga kesucian hatinya. Beliau meyakini bahwa seorang mukmin harus selalu waspada terhadap godaan harta dan jabatan. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya di hari kiamat (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, beliau seringkali membantu kesulitan saudara-saudaranya sesama Muslim tanpa ingin mendapatkan pujian dari manusia. Beliau juga sangat berhati-hati dalam berbicara agar lisannya tetap terjaga dari hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya. Selain itu, beliau sukses membuktikan bahwa kewibawaan sejati muncul dari ketaatan yang tulus kepada Allah ﷻ, bukan dari kekuasaan. Sifat rendah hati ini membuat masyarakat sangat mencintai beliau dan menjadikannya sebagai teladan dalam berperilaku sehari-hari.
Pembela Sunnah dan Penentang Bid’ah
Kemudian, peran strategis Ayyub As-Sikhtiyani رحمه الله terlihat nyata dalam upayanya menjaga umat dari berbagai paham yang menyimpang. Beliau merupakan orang yang paling keras dalam menolak bid’ah dan selalu menyeru masyarakat untuk kembali kepada tuntunan Rasulullah ﷺ yang murni. Beliau memahami bahwa keselamatan agama hanya terletak pada kesetiaan mengikuti jejak para pendahulu yang shalih. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya ketaatan:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
Taatilah Allah dan taatilah Rasul (QS. An-Nisa: 59).
Oleh karena itu, beliau senantiasa menekankan pentingnya sanad (mata rantai periwayatan) yang jelas dalam setiap penyampaian ilmu agama. Beliau memegang teguh kejujuran dalam berilmu sehingga setiap riwayat yang berasal dari beliau memiliki tingkat keshahihan yang sangat diakui. Selain itu, beliau berhasil mencetak generasi ulama yang tangguh dalam membela kebenaran di tengah berbagai fitnah zaman. Keteguhan prinsip ini menjadikan beliau sebagai benteng pertahanan bagi aqidah umat Islam di wilayah Irak dan sekitarnya.
Akhir Hayat Sang Mata Air Hikmah
Pada akhirnya, Ayyub As-Sikhtiyani رحمه الله wafat pada tahun 131 Hijriah saat terjadi wabah penyakit di Bashrah. Kepergian beliau membawa duka yang sangat mendalam bagi seluruh dunia Islam yang telah merasakan manfaat dari ilmu dan keshalehannya. Meskipun raga beliau telah tiada, namun warisan riwayat hadits dan keteladanan akhlaknya tetap hidup abadi dalam kitab-kitab para ulama.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan ketakwaan. Beliau membuktikan bahwa kemuliaan seorang hamba Allah ﷻ terletak pada kesungguhannya dalam menjaga amanah syariat. Walaupun zaman terus berganti, sosok Ayyub As-Sikhtiyani akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi jalan bagi para penuntut ilmu.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


