Permata Ilmu dari Keturunan Abu Bakar
Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq رحمه الله merupakan salah satu tokoh sentral dalam jajaran “Tujuh Fakih Madinah” (Al-Fuqaha Al-Sab’ah). Beliau lahir pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan tumbuh di bawah asuhan langsung bibinya, Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها. Selain mewarisi kemuliaan nasab dari kakeknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, beliau juga mewarisi kecerdasan serta kedalaman ilmu yang luar biasa.
Didikan Emas di Madrasah Aisyah رضي الله عنها
Awalnya, Al-Qasim bin Muhammad رحمه الله kehilangan ayahnya saat beliau masih sangat belia. Namun, Allah ﷻ menakdirkan beliau untuk tumbuh dalam pengawasan Aisyah رضي الله عنها, wanita paling alim di kalangan sahabat. Oleh sebab itu, beliau menjadi salah satu perawi hadits yang paling tepercaya dari bibinya tersebut. Beliau memahami betul setiap hukum dan adab yang Rasulullah ﷺ ajarkan karena beliau menyerapnya langsung dari sumbernya. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya menuntut ilmu:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS. At-Taubah: 122).
Selanjutnya, penguasaan Al-Qasim terhadap ilmu sunnah menjadikannya rujukan utama di Madinah. Beliau selalu berusaha menjaga kemurnian ajaran Islam dengan ketelitian yang sangat tinggi. Maka, para ulama sezamannya mengakui bahwa Al-Qasim adalah orang yang paling mengetahui sunnah Aisyah رضي الله عنها dibandingkan perawi lainnya.
Keutamaan Wara’ dan Kesahajaan Hidup
Selain cerdas, Al-Qasim bin Muhammad رحمه الله juga terkenal karena sifat wara’ atau sangat berhati-hati dalam urusan agama. Beliau sering kali menahan diri untuk tidak memberikan fatwa jika beliau merasa tidak memiliki dasar yang kuat dari atsar para sahabat. Ketawaduan ini beliau tunjukkan agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang dapat merugikan umat. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, setiap ucapan beliau memiliki bobot kebenaran yang sangat kuat. Beliau lebih memilih hidup sederhana dan menjauhi kemewahan duniawi meskipun beliau memiliki kedudukan terhormat di masyarakat. Prinsip hidup ini beliau pegang teguh agar hatinya tetap fokus pada pengabdian kepada Allah ﷻ serta penyebaran ilmu kepada murid-muridnya.
Pengaruh Besar dalam Fikih Madinah
Kemudian, Al-Qasim bin Muhammad رحمه الله memainkan peran kunci dalam menyusun fondasi fikih Madinah yang kelak menjadi rujukan Imam Malik. Beliau bersama fakih lainnya rutin melakukan diskusi ilmiah untuk menetapkan hukum-hukum syariat berdasarkan dalil yang shahih. Beliau memahami bahwa menjaga integritas ilmu merupakan bentuk amanah yang sangat besar di hadapan Allah ﷻ.
Ketaatan beliau dalam beribadah juga sangat mengagumkan, terutama dalam menjaga shalat tepat pada waktunya. Beliau meyakini bahwa amal shalat adalah kunci utama keselamatan seorang hamba. Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal yang paling dicintai Allah ﷻ, lalu Nabi ﷺ menjawab:
الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا
Shalat pada waktunya (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, Al-Qasim tidak pernah membiarkan kesibukan mengajar menghalanginya untuk beribadah secara maksimal. Beliau sukses memadukan antara ketinggian intelektual dengan kedalaman spiritual dalam satu pribadi yang utuh.
Akhir Hayat yang Mulia
Pada akhirnya, Al-Qasim bin Muhammad رحمه الله wafat pada tahun 106 Hijriah dalam usia sekitar 70 tahun. Beliau meninggal dunia di sebuah tempat bernama Qudaid saat sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Meskipun jasad beliau telah tiada, namun warisan ilmunya tetap mengalir melalui para murid besar yang menyebarkan ajaran beliau ke seluruh penjuru dunia.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya bergantung pada nasab, melainkan pada kualitas ilmu dan takwa. Beliau membuktikan bahwa pengasuhan yang baik di lingkungan yang shalih akan melahirkan generasi yang luar biasa bagi umat. Walaupun zaman terus berganti, sosok Al-Qasim bin Muhammad رحمه الله akan selalu tercatat sebagai permata berharga dalam sejarah keemasan Islam.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



