Al-Fudhayl bin Iyadh رحمه الله

Sang Abid dari Haramain

Al-Fudhayl bin Iyadh bin Mas’ud At-Tamimi رحمه الله lahir di Khurasan pada tahun 107 Hijriah. Beliau merupakan salah satu tokoh paling inspiratif dalam sejarah Islam yang mendapatkan julukan Abidul Haramain (Ahli Ibadah Dua Tanah Suci). Perjalanan hidupnya sangat luar biasa karena beliau mengalami transformasi spiritual yang sangat drastis, dari seorang perampok jalanan menjadi ulama besar yang sangat disegani.

Titik Balik Taubat yang Mengharukan

Awalnya, Al-Fudhayl bin Iyadh dikenal sebagai pemimpin komplotan perampok yang ditakuti di wilayah antara Abiward dan Sarakhs. Namun, hidayah Allah ﷻ menyapa hatinya saat beliau sedang memanjat tembok untuk melakukan sebuah perbuatan dosa. Beliau mendengar seseorang membacakan ayat Al-Quran yang sangat menyentuh jiwanya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) (QS. Al-Hadid: 16).

Selanjutnya, beliau seketika menjawab ayat tersebut dengan penuh kerendahan hati bahwa masanya telah tiba. Beliau segera bertaubat dengan sungguh-sungguh dan meninggalkan seluruh dunia gelapnya untuk menempuh jalan ilmu. Allah ﷻ menjanjikan penerimaan taubat bagi hamba-Nya dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan (QS. Asy-Syura: 25).

Kesungguhan dalam Menimba Ilmu Hadits

Kemudian, setelah bertaubat, Al-Fudhayl bin Iyadh رحمه الله melakukan perjalanan panjang menuju Kufah dan Makkah untuk menuntut ilmu. Beliau berguru kepada ulama-ulama besar seperti Mansur bin Al-Mu’tamir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Sufyan Ats-Tsauri. Ketekunannya membuahkan hasil hingga beliau menjadi salah satu perawi hadits yang sangat tepercaya dan memiliki pemahaman agama yang mendalam.

Ketaatan beliau terhadap Sunnah Nabi ﷺ menjadi landasan utama dalam setiap perilakunya sehari-hari. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تٰابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تٰابَ اللّٰهُ عَلَيْهِ

Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, beliau sukses membuktikan bahwa masa lalu yang kelam bukan penghalang untuk meraih kedudukan mulia di sisi Allah ﷻ. Beliau menetap di Makkah dan menghabiskan sisa usianya di dekat Ka’bah untuk beribadah dan mengajar. Kewibawaannya sangat luar biasa hingga Khalifah Harun Ar-Rasyid seringkali datang menemui beliau untuk meminta nasihat yang menggetarkan hati. Beliau selalu menekankan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu yang menanamkan rasa takut kepada Allah ﷻ.

Nasihat Kehidupan dan Kezuhudan

Selain pakar hadits, Al-Fudhayl bin Iyadh رحمه الله sangat terkenal karena kata-kata hikmahnya yang tajam namun penuh rahmat. Beliau mengajarkan bahwa kunci kebahagiaan adalah dengan menjauhkan diri dari ketergantungan kepada makhluk dan hanya berharap kepada Allah ﷻ. Beliau meyakini bahwa kezuhudan yang sejati terletak pada hati yang tenang meskipun dunia berada di tangan. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter hamba-Nya yang shalih:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, setiap ucapan beliau senantiasa mengandung peringatan tentang bahaya penyakit hati seperti riya’ dan sombong. Beliau sukses mendidik para muridnya, termasuk Imam Asy-Syafi‘i yang pernah mengambil faedah dari keshalehan beliau. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat penyayang kepada anak yatim dan fakir miskin meskipun beliau sendiri hidup dalam kesederhanaan. Pengaruh spiritual beliau melintasi batas wilayah dan tetap menjadi rujukan bagi para pencari ketenangan jiwa hingga saat ini.

Akhir Hayat yang Terpuji di Tanah Suci

Pada akhirnya, Al-Fudhayl bin Iyadh رحمه الله wafat di kota Makkah pada bulan Muharram tahun 187 Hijriah. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi umat Islam karena kehilangan sosok penyejuk hati yang luar biasa. Meskipun jasad beliau telah dikebumikan di tanah suci, namun kisah taubat dan ketakwaannya tetap abadi sebagai pelajaran bagi setiap generasi.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa pintu taubat selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin kembali. Beliau membuktikan bahwa kesungguhan dalam berhijrah akan menghantarkan seseorang pada puncak kemuliaan iman. Walaupun zaman terus berganti, sosok Al-Fudhayl bin Iyadh akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya bagi mereka yang sempat tersesat di jalan kegelapan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top