Sang Ulama Besar Negeri Syam
Abu Idris Al-Khawlani رحمه الله memiliki nama lengkap A’idzubillah bin Abdullah bin ‘Amr. Beliau lahir pada tahun terjadinya Fathu Makkah, yaitu tahun ke-8 Hijriah. Sebagai tokoh terkemuka dari kalangan Tabi’in senior di negeri Syam, beliau menonjol karena kecerdasan serta keshalehannya yang sangat luar biasa. Penduduk Damaskus mengenal beliau sebagai seorang hakim yang adil serta pemberi nasihat yang mampu menggetarkan hati para pendengarnya.
Menimba Ilmu dari Cahaya Kenabian
Awalnya, Abu Idris Al-Khawlani رحمه الله mendapatkan kemuliaan karena sempat bertemu dengan banyak sahabat senior Rasulullah ﷺ. Beliau menimba ilmu secara mendalam dari tokoh-tokoh besar seperti Mu’adz bin Jabal, Abu Dzarr Al-Ghifari, dan Abu Darda رضي الله عنهم. Ketekunan beliau dalam menuntut ilmu sesuai dengan janji Allah ﷻ dalam Al-Quran:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, penguasaan beliau terhadap hadits dan hukum Islam menjadikan beliau sebagai rujukan utama di wilayah Syam. Beliau sukses menduduki posisi sebagai hakim di Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Maka, integritas serta ketaatan beliau terhadap syariat membuat setiap keputusannya sangat dihormati oleh masyarakat luas. Beliau memahami bahwa mengemban amanah ilmu dan hukum merupakan tugas suci yang membutuhkan kejujuran mutlak kepada Allah ﷻ.
Kedalaman Makna Hadits dan Cinta kepada Sesama
Selain menjabat sebagai hakim, Abu Idris Al-Khawlani رحمه الله terkenal sebagai perawi hadits yang sangat tepercaya. Beliau meriwayatkan sebuah hadits qudsi yang sangat masyhur mengenai cinta karena Allah ﷻ dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه. Rasulullah ﷺ bersabda menyampaikan firman Allah ﷻ:
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Cinta-Ku pasti Aku berikan bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang duduk bersama karena Aku, orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku, dan orang-orang yang saling memberi karena Aku” (HR. Malik dalam Al-Muwatta dan Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).
Oleh sebab itu, beliau senantiasa membangun hubungan sosialnya di atas landasan iman yang kokoh dan kasih sayang. Beliau sukses menanamkan nilai-nilai ketulusan dalam setiap majelis ilmu yang beliau pimpin di Masjid Damaskus. Berdasarkan hadits tersebut, beliau mendorong setiap Muslim untuk mengutamakan persaudaraan Islam di atas kepentingan pribadi atau duniawi. Keteladanan ini menjadikan beliau sebagai sosok yang sangat dicintai oleh kawan maupun lawan karena kelembutan akhlaknya.
Keshalehan dan Ketegasan dalam Keadilan
Kemudian, sisi lain yang sangat menonjol dari Abu Idris Al-Khawlani رحمه الله adalah kezuhudannya terhadap gemerlap kekuasaan. Meskipun memiliki jabatan tinggi, beliau tetap menjaga hidupnya dalam kesederhanaan dan ketakwaan yang sangat kental. Beliau memahami bahwa seorang hakim akan menghadapi pertanggungjawaban yang sangat berat di hadapan Allah ﷻ kelak. Allah ﷻ berfirman mengenai keadilan:
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil (QS. An-Nisa: 58).
Oleh karena itu, beliau tidak pernah mau berkompromi dengan ketidakadilan meskipun tekanan datang dari pihak manapun. Beliau sukses menjalankan fungsi hukum sebagai sarana untuk melindungi hak-hak rakyat kecil dan menegakkan kebenaran. Selain itu, beliau sering memberikan nasihat yang sangat mendalam tentang bahaya penyakit hati dan pentingnya menjaga keikhlasan. Kewibawaan beliau lahir dari konsistensi antara perkataan dan perbuatannya yang selalu merujuk pada Sunnah Rasulullah ﷺ yang murni.
Akhir Hayat Sang Mata Air Ilmu Syam
Pada akhirnya, Abu Idris Al-Khawlani رحمه الله wafat pada tahun 80 Hijriah di kota Damaskus. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya salah satu penjaga hadits terbaik. Meskipun raga beliau telah tiada, namun riwayat-riwayat hadits serta prinsip keadilannya tetap abadi dalam khazanah keilmuan Islam.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa jabatan adalah sarana untuk mengabdi kepada Allah ﷻ dan manusia. Beliau membuktikan bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketaatan yang tulus dan kecintaan kepada sesama mukmin karena Allah ﷻ. Walaupun zaman terus berganti, sosok Abu Idris Al-Khawlani akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi negeri Syam.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


